Ilustrasi (Foto: Ist)
Kontenkalteng.com, Sampit – Bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kian sulit diakses sopir truk di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Baca juga: Ratusan Sopir Truk Logistik Demo di Kantor DPRD Kotim
Mereka bukan hanya harus mengantre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), tetapi juga mengaku dipalak pungutan hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk bisa masuk antrean.
Seorang sopir truk yang enggan disebutkan namanya menyebut, untuk bisa langsung masuk jalur pengisian tanpa harus ikut antre panjang, sopir harus merogoh kocek lebih dalam.
”Kalau mau langsung masuk bayar Rp700 ribu dengan oknum yang mengatur antrean di SPBU,” katanya, Selasa (5/5/2026).
Ia menuturkan, situasi ini makin menekan para sopir. Di tengah harga BBM non-subsidi yang meroket, mereka masih dibebani pungutan tak resmi yang dikemas sebagai biaya parkir atau jasa pengaturan antrean.
”Bayangkan tarikan sebesar itu kalau dibelikan minyaknya sudah dapat berapa liter,” ujarnya.
Sementara itu, sejak kenaikan harga BBM non-subsidi pertengahan April, antrean di sejumlah SPBU di Sampit memang tampak mengular.
Deretan kendaraan roda dua, roda empat, hingga truk besar memadati jalur pengisian, bahkan meluber ke badan jalan.
Fenomena ini bukan cuma mengganggu kelancaran aktivitas sopir angkutan barang, tetapi juga memicu ketidaknyamanan pengguna jalan dan pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran distribusi logistik.
Praktik pungli di sekitar SPBU semakin menambah keresahan di kalangan sopir truk.
Kondisi tersebut kini menjadi sorotan serius bagi pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan pengelola SPBU.
Mereka didesak mencari solusi agar distribusi solar bersubsidi berjalan lebih tertib, bebas pungutan liar, dan tidak menambah beban para pengemudi serta pelaku usaha di Sampit.
Penulis : Deviana
Editor : Gunawan